Saturday Night Karaoke Ceritakan Sosok ‘Puspita Skena’ Melalui Single Terbarunya

Ditulis oleh Sendhi Anshari Rasyid

Durasi Baca 2 menit 20 detik

Sumber Gambar Saturday Night Karaoke

Hanya kurang lebih sebulan berselang pasca perilisan ‘…Abnormal? Abnormal!!!’, Saturday Night Karaoke kembali dengan single terbarunya yang berjudul ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’. Menyudahi narasi penuh keluh-kesah yang kental terasa pada single sebelumnya, Saturday Night Karaoke kini mencoba untuk memotret sebuah fenomena yang cukup familiar dirasakan oleh kamu si anak skena, yaitu mengenai eksistensi para sosok scenester populer. Seseorang yang presensinya disegani oleh lingkungan sekitar, entah itu karena opininya, pengetahuannya, ataupun karya-karyanya yang dianggap keren secara kolektif dan akhirnya diidolakan oleh banyak orang. Hal tersebut pada akhirnya membuat mereka menjadi seorang sosok yang terasa out-of-reach bagi sebagian orang.

 

Pada single ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’ ini saya menyukai bagaimana Saturday Night Karaoke menyusun narasi, diksi, dan referensinya untuk diramu menjadi sebuah lirik. Meskipun ini merupakan lagu kedua yang menggunakan formula lirik berbahasa Indonesia yang lebih bernarasi, tapi tak terasa canggung sama sekali. Semuanya terasa lugas dan pas untuk menyampaikan narasi dari fenomena sosok scenester populer tersebut. Gaya penyampaian yang cukup berbeda dibandingkan dengan formula lirik berbahasa Indonesia para rilisan Saturday Night Karaoke terdahulu.

 

“Tantangan baru juga buat nulis lirik yang lebih naratif. Sama semoga aja si cerita lagunya jadi lebih mudah tersampaikan dengan gamblang. Maklum saya enggak puitis soalnya. Hahaha,” ungkap Prabu Pramayougha (Vokal/Gitar) pada siaran pers.

 

Saya rasa itu merupakan keputusan yang tepat. Karena untuk jenis musik yang mereka mainkan, narasinya memang paling cocok disampaikan secara to-the-point. Tanpa perlu majas berlebih yang membuat pendengarnya harus mengupas layer berlapis untuk menemukan maksudnya.

Dengan gaya penuturan tersebut, saya berhasil menemukan beberapa hal yang menarik. Seperti penggalan lirik, “urungkanlah semua hasrat romansamu, kau bukan di kelasnya”, yang seakan merupakan wake-up call bagi para warga skena awam untuk bisa berpikir realistis dan mengurungkan niat mereka untuk bisa menjalin hubungan khusus dengan sosok tersebut. Lalu penyebutan nama Kathleen Hanna dan Billy Bragg untuk menggambarkan seberapa edgy referensi yang dimiliki oleh seorang scenester. Dan yang terakhir, yang menjadi favorit saya adalah bagaimana Saturday Night Karaoke memperkenalkan frasa ‘puspita skena’. Sebuah frasa yang rasanya bisa digunakan sebagai padanan Bahasa Indonesia dari ‘indie-darling’ yang mungkin saat ini sudah terasa usang. Sedikit trivia, setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata frasa ‘aradaneks’ pada judulnya merupakan wordplay dari ‘dara skena’.

 

Sedangkan dari segi musik, secara benang merah masih berpegang teguh pada musik poppy punk-rock yang sudah Saturday Night Karaoke usung sejak 2008 silam. Upbeat, menyenangkan, dan moshable. Namun, disaat bersamaan juga tetap terasa baru dan segar. Hal tersebut dipengaruhi oleh andil Dennis Ferdinand (additional gitar Perunggu) yang bertindak sebagai produser dan juga kehadiran Yana Setya sebagai personil teranyar yang berhasil menginjeksi pattern bassline centil pada rilisan baru trio asal Bandung tersebut.

 

Kedua single yang mereka lepas sejauh ini membuat saya cukup optimis untuk menanti kesegaran baru lainnya yang akan ditawarkan oleh Saturday Night Karaoke. Karena kabarnya, mereka telah memiliki materi yang siap untuk dirilis hingga akhir tahun nanti.

 

Kalau menurutmu, siapa sosok yang cocok untuk disebut sebagai ‘puspita skena’ saat ini?

Ditulis oleh Sendhi Anshari Rasyid

Durasi Baca 2 menit 20 detik

Sumber Gambar Saturday Night Karaoke

Hanya kurang lebih sebulan berselang pasca perilisan ‘…Abnormal? Abnormal!!!’, Saturday Night Karaoke kembali dengan single terbarunya yang berjudul ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’. Menyudahi narasi penuh keluh-kesah yang kental terasa pada single sebelumnya, Saturday Night Karaoke kini mencoba untuk memotret sebuah fenomena yang cukup familiar dirasakan oleh kamu si anak skena, yaitu mengenai eksistensi para sosok scenester populer. Seseorang yang presensinya disegani oleh lingkungan sekitar, entah itu karena opininya, pengetahuannya, ataupun karya-karyanya yang dianggap keren secara kolektif dan akhirnya diidolakan oleh banyak orang. Hal tersebut pada akhirnya membuat mereka menjadi seorang sosok yang terasa out-of-reach bagi sebagian orang.

 

Pada single ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’ ini saya menyukai bagaimana Saturday Night Karaoke menyusun narasi, diksi, dan referensinya untuk diramu menjadi sebuah lirik. Meskipun ini merupakan lagu kedua yang menggunakan formula lirik berbahasa Indonesia yang lebih bernarasi, tapi tak terasa canggung sama sekali. Semuanya terasa lugas dan pas untuk menyampaikan narasi dari fenomena sosok scenester populer tersebut. Gaya penyampaian yang cukup berbeda dibandingkan dengan formula lirik berbahasa Indonesia para rilisan Saturday Night Karaoke terdahulu.

 

“Tantangan baru juga buat nulis lirik yang lebih naratif. Sama semoga aja si cerita lagunya jadi lebih mudah tersampaikan dengan gamblang. Maklum saya enggak puitis soalnya. Hahaha,” ungkap Prabu Pramayougha (Vokal/Gitar) pada siaran pers.

 

Saya rasa itu merupakan keputusan yang tepat. Karena untuk jenis musik yang mereka mainkan, narasinya memang paling cocok disampaikan secara to-the-point. Tanpa perlu majas berlebih yang membuat pendengarnya harus mengupas layer berlapis untuk menemukan maksudnya.

Dengan gaya penuturan tersebut, saya berhasil menemukan beberapa hal yang menarik. Seperti penggalan lirik, “urungkanlah semua hasrat romansamu, kau bukan di kelasnya”, yang seakan merupakan wake-up call bagi para warga skena awam untuk bisa berpikir realistis dan mengurungkan niat mereka untuk bisa menjalin hubungan khusus dengan sosok tersebut. Lalu penyebutan nama Kathleen Hanna dan Billy Bragg untuk menggambarkan seberapa edgy referensi yang dimiliki oleh seorang scenester. Dan yang terakhir, yang menjadi favorit saya adalah bagaimana Saturday Night Karaoke memperkenalkan frasa ‘puspita skena’. Sebuah frasa yang rasanya bisa digunakan sebagai padanan Bahasa Indonesia dari ‘indie-darling’ yang mungkin saat ini sudah terasa usang. Sedikit trivia, setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata frasa ‘aradaneks’ pada judulnya merupakan wordplay dari ‘dara skena’.

 

Sedangkan dari segi musik, secara benang merah masih berpegang teguh pada musik poppy punk-rock yang sudah Saturday Night Karaoke usung sejak 2008 silam. Upbeat, menyenangkan, dan moshable. Namun, disaat bersamaan juga tetap terasa baru dan segar. Hal tersebut dipengaruhi oleh andil Dennis Ferdinand (additional gitar Perunggu) yang bertindak sebagai produser dan juga kehadiran Yana Setya sebagai personil teranyar yang berhasil menginjeksi pattern bassline centil pada rilisan baru trio asal Bandung tersebut.

 

Kedua single yang mereka lepas sejauh ini membuat saya cukup optimis untuk menanti kesegaran baru lainnya yang akan ditawarkan oleh Saturday Night Karaoke. Karena kabarnya, mereka telah memiliki materi yang siap untuk dirilis hingga akhir tahun nanti.

 

Kalau menurutmu, siapa sosok yang cocok untuk disebut sebagai ‘puspita skena’ saat ini?

Ditulis oleh Sendhi Anshari Rasyid

Durasi Baca 2 menit 20 detik

Sumber Gambar Saturday Night Karaoke

Hanya kurang lebih sebulan berselang pasca perilisan ‘…Abnormal? Abnormal!!!’, Saturday Night Karaoke kembali dengan single terbarunya yang berjudul ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’. Menyudahi narasi penuh keluh-kesah yang kental terasa pada single sebelumnya, Saturday Night Karaoke kini mencoba untuk memotret sebuah fenomena yang cukup familiar dirasakan oleh kamu si anak skena, yaitu mengenai eksistensi para sosok scenester populer. Seseorang yang presensinya disegani oleh lingkungan sekitar, entah itu karena opininya, pengetahuannya, ataupun karya-karyanya yang dianggap keren secara kolektif dan akhirnya diidolakan oleh banyak orang. Hal tersebut pada akhirnya membuat mereka menjadi seorang sosok yang terasa out-of-reach bagi sebagian orang.

 

Pada single ‘File Under: ARADANEKS_BETA_VERSION’ ini saya menyukai bagaimana Saturday Night Karaoke menyusun narasi, diksi, dan referensinya untuk diramu menjadi sebuah lirik. Meskipun ini merupakan lagu kedua yang menggunakan formula lirik berbahasa Indonesia yang lebih bernarasi, tapi tak terasa canggung sama sekali. Semuanya terasa lugas dan pas untuk menyampaikan narasi dari fenomena sosok scenester populer tersebut. Gaya penyampaian yang cukup berbeda dibandingkan dengan formula lirik berbahasa Indonesia para rilisan Saturday Night Karaoke terdahulu.

 

“Tantangan baru juga buat nulis lirik yang lebih naratif. Sama semoga aja si cerita lagunya jadi lebih mudah tersampaikan dengan gamblang. Maklum saya enggak puitis soalnya. Hahaha,” ungkap Prabu Pramayougha (Vokal/Gitar) pada siaran pers.

 

Saya rasa itu merupakan keputusan yang tepat. Karena untuk jenis musik yang mereka mainkan, narasinya memang paling cocok disampaikan secara to-the-point. Tanpa perlu majas berlebih yang membuat pendengarnya harus mengupas layer berlapis untuk menemukan maksudnya.

Dengan gaya penuturan tersebut, saya berhasil menemukan beberapa hal yang menarik. Seperti penggalan lirik, “urungkanlah semua hasrat romansamu, kau bukan di kelasnya”, yang seakan merupakan wake-up call bagi para warga skena awam untuk bisa berpikir realistis dan mengurungkan niat mereka untuk bisa menjalin hubungan khusus dengan sosok tersebut. Lalu penyebutan nama Kathleen Hanna dan Billy Bragg untuk menggambarkan seberapa edgy referensi yang dimiliki oleh seorang scenester. Dan yang terakhir, yang menjadi favorit saya adalah bagaimana Saturday Night Karaoke memperkenalkan frasa ‘puspita skena’. Sebuah frasa yang rasanya bisa digunakan sebagai padanan Bahasa Indonesia dari ‘indie-darling’ yang mungkin saat ini sudah terasa usang. Sedikit trivia, setelah ditelaah lebih lanjut, ternyata frasa ‘aradaneks’ pada judulnya merupakan wordplay dari ‘dara skena’.

 

Sedangkan dari segi musik, secara benang merah masih berpegang teguh pada musik poppy punk-rock yang sudah Saturday Night Karaoke usung sejak 2008 silam. Upbeat, menyenangkan, dan moshable. Namun, disaat bersamaan juga tetap terasa baru dan segar. Hal tersebut dipengaruhi oleh andil Dennis Ferdinand (additional gitar Perunggu) yang bertindak sebagai produser dan juga kehadiran Yana Setya sebagai personil teranyar yang berhasil menginjeksi pattern bassline centil pada rilisan baru trio asal Bandung tersebut.

 

Kedua single yang mereka lepas sejauh ini membuat saya cukup optimis untuk menanti kesegaran baru lainnya yang akan ditawarkan oleh Saturday Night Karaoke. Karena kabarnya, mereka telah memiliki materi yang siap untuk dirilis hingga akhir tahun nanti.

 

Kalau menurutmu, siapa sosok yang cocok untuk disebut sebagai ‘puspita skena’ saat ini?