Berkontemplasi Bersama LÜCY Dalam Debut Albumnya Yang Intim

Text by Indonesia-Taiwan Pop Bureau

Solois muda Taiwan, LÜCY merilis album penuh pertamanya yang diberi tajuk namanya sendiri pada Juni 2022 lalu. Mengkombinasikan musik folk yang segar dengan nuansa dream pop yang mengawang, LÜCY hendak memperluas jangkauan pendengarnya setelah sukses menarik perhatian di kancah musik lokal Taiwan. Berisi 11 trek yang dikemas dalam format vinyl, debut ini menghimpun sejumlah lagu yang sebelumnya dilepas sebagai single. Selain lagu populer “CACTUS” yang dirilis pada 2021 dan melejitkan namanya, ada juga lagu “Heaven.zip”. Selain itu terdapat lagu “EYE(S)”, “Birdie” dan “OH HEY” yang dirilis sepanjang Februari hingga Mei 2022. Di lagu “OH HEY”, LÜCY berkolaborasi dengan trio rock Jepang, hitsujibungaku. Dalam format digital di Spotify Indonesia, album ini hanya berisi 10 trek minus “OH HEY”. Lagu tersebut bisa didengar terpisah sebagai single di luar album. Sementara “Birdie” ditampilkan dalam judul Mandarin-nya, 電線桿上的鳥 (pinyin: Diànxiàn gǎn shàng de niǎo). LÜCY memulai aktivitas bermusiknya lewat sejumlah lagu yang ia rekam sendiri di kamar tidurnya. Dikutip dari sesi Unmute Vol. 1 di Taiwan Beats, beberapa inspirasi yang ia sebut seperti Beabadoobee dan Girl in Red. Siapa sangka jika karya yang ia lepas pertama kali lewat situs musik lokal Street Voice melambungkan namanya begitu cepat. Dalam waktu singkat, seiring perilisan album barunya, ia merambah pendengar dunia lewat sejumlah festival besar. Di tahun ini ia berkesempatan tampil di Kaunas 2022 di Lithuania dan Primavera Sound Festival di Spanyol.

Source photo by primaverasound.com

Sebuah Audible Diary Album penuh LÜCY punya nuansa kontemplatif. Topik yang ia angkat seringkali bersinggungan langsung dengan hidupnya. “Kebanyakan orang memilih untuk merekam hidupnya dengan menulis diary. Sementara saya, sangat senang merekam apa yang terjadi dalam hidup daya lewat melodi dan lirik,” kata LÜCY yang punya nama asli Liao Hsin-ning. LÜCY menambahkan, “Album pertama ini, yang secara eponim diberi judul LÜCY, adalah sebuah audible diary buat saya.” Hal itu sudah terasa sejak trek pembuka, “2021”. Bukan hanya menyajikan trek yang introspektif dan dinamis, LÜCY juga memunculkan potret kesehariannya lewat suara percakapan dengan keluarga, dengkuran kucing, dan nyanyian burung. Sebuah gerbang yang mengantarkan pendengar untuk memasuki lebih banyak pengalaman LÜCY di trek-trek lainnya. Setelah “2021”, megahits “CACTUS” didapuk menjadi trek kedua. Selain musikalitas yang mumpuni, LÜCY juga menghadirkan keberagaman bahasa dalam tiap treknya. Mayoritas lagunya memang dinyanyikan dalam Bahasa Inggris dan Mandarin, atau kombinasi keduanya. Seperti pada lagu “Birdie” atau “Heaven.zip”. Selain itu ada juga bahasa Jepang dalam “OH HEY” dan lagu “isahini” yang dinyanyikan dalam bahasa adat keluarganya. Untuk diketahui, selain Mandarin, Taiwan juga mengenal sejumlah bahasa lokal seperti Hokkien, Hakka, dan banyak sekali bahasa adat. Bagi LÜCY, tiba-tiba mendapat sorotan karena kesuksesan beberapa lagu tunggalnya bukan hal mudah. Apalagi sebelumnya ia lebih sering berada di kamar dan merekam musiknya sendiri. Namun, LÜCY kini bukan lagi anak perempuan penyendiri yang menulis diary-nya lewat melodi. Ia telah belajar berkolaborasi dan berinterkasi tidak hanya dengan rekan bermusiknya di band pengiring, tetapi juga produser, dan para pendengar. Ia pun berharap karyanya bisa menjangkau lebih banyak lagi penikmat musik dari berbagai penjuru bumi.

Tentang LÜCY LÜCY adalah solois muda Taiwan yang kini berusia 22 tahun. Sejak kelas dua SD, musik telah menjadi bagian hidupnya. Ia bahkan menamatkan pendidikan SMA-nya di jurusan musik populer. Seiring kemampuannya yang terus berkembang, LÜCY memberanikan diri menulis dan merekam lagu pertamanya di usia 19 tahun. Demo lagu pertamanya ini kemudian ia kirim ke salah satu gurunya, seorang produser musik yang dikenal dengan moniker Deja Fu. “Ini adalah perjalanan pertama saya untuk merangkak ke dunia musik,” kata LÜCY. Musisi muda yang di luar musik menggemari yoga dan melukis ini mengaku kesulitan saat karyanya jadi sorotan. Ia yang biasanya berkarya sendiri mulai mengenal band pengiring dan produser. Di sisi lain, itu membuat musiknya lebih bagus. Tetapi di sisi lain, sebagai pribadi yang cenderung tertutup dan kurang percaya diri, ia mengaku kesulitan beradaptasi. “Sekarang setelah dua tahun berada di kancah, saya mulai mengembangkan diri saya keluar dari keragu-raguan atas kemampuan saya,” kata dia. Ya, kini LÜCY memang telah berkembang menjadi salah satu musisi Taiwan yang patut diantisipasi dunia. Tur Eropanya beberapa bulan lalu yang disambut positif oleh audiens Benua Biru membuktikan kalau dia tak hanya piawai dalam rekaman, tetapi juga di panggung. *This release provided by Taiwan Beats, the gateway to Taiwanese music

Tentang ID-TW Pop Bureau Indonesia Taiwan Pop Bureau adalah inisiatif yang memiliki visi menghubungkan kancah musik Indonesia dan Taiwan serta memperkenalkannya ke publik musik di masing-masing wilayah. Tujuannya untuk menggali potensi yang bisa dikerjasamakan ke depan antara kancah musik Indonesia dan Taiwan, baik lewat kolaborasi antar-musisi/band, split EP/LP bahkan tur. Indonesia adalah negara dengan banyak aksi musikal dengan ragam karakter dan genrenya Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum pandemi COVID-19, di Indonesia juga muncul banyak festival musik yang majemuk. Kini setelah situasi pandemi mereda, geliatnya bahkan semakin massif. Sementara Taiwan, adalah pulau dengan banyak ruang pertunjukan musik di dalamnya. Lebih dari selusin Live House di ibu kota Taipei, skena musik yang hidup dengan beragam bandnya, serta festival musik yang digelar hampir setiap bulan di hampir seluruh kota di Taiwan. Selama sepuluh tahun terakhir, Taiwan juga dianggap sebagai salah satu melting pot yang potensial untuk kancah musik independen Asia Timur dan Tenggara.  Upaya yang kami lakukan di antaranya dengan membuat daftar putar mingguan di Spotify lewat akun Indonesia-Taiwan Pop Bureau. Selain daftar putar reguler, Indonesia-Taiwan Pop Bureau juga bergerak di bidang publikasi.

Kontak


Contact LÜCY :lucyliaomeow@gmail.comhttps://www.instagram.com/lucy99island/ Contact ID-TW Pop Bureau :idtw.popbureau@gmail.com https://www.instagram.com/idtw.popbureau/ Contact Taiwan Beats : liyang@panmedia.asiataiwanbeats@punchline.asia

Translated by Muhammad Azka Muharam

Young Taiwanese soloist LÜCY released her first self-titled full-length album in June 2022. Combining fresh folk music with an airy dream pop feel, LÜCY is looking to expand its audience after successfully attracting the local Taiwanese music scene.  This album is filled with 11 tracks packaged in vinyl format, and this debut collects several songs previously released as singles. In addition to the famous hit “CACTUS” released in 2021 and skyrocketing her name, there is also the song “Heaven.zip.” In addition, there are the songs “EYE(S)”, “Birdie” and “OH HEY” which were released from February to May 2022. In the song “OH HEY”, LÜCY collaborated with the Japanese rock trio, hitsujibungaku. In digital format on Spotify Indonesia, this album only contains ten tracks minus “OH HEY”. We can hear the song separately as a single off the album. While “Birdie” is featured in its Chinese title, “電線桿上的鳥” (pinyin: Diànxiàn gǎn shàng de niǎo).  LÜCY started her musical activities through several songs she recorded in her bedroom. Quoted from the Unmute Vol. 1 on Taiwan Beats, some of the inspirations he mentions, such as Beabadoobee and Girl in Red. Who would have thought if the work she released for the first time through local music site Street Voice propelled her name so quickly. With the release of her new album in a short time, she penetrated the world’s audience through several major festivals. This year she had the opportunity to perform at the 2022 Kaunas in Lithuania and the Primavera Sound Festival in Spain. 

Source photo by primaverasound.com

An Audible Diary LÜCY’s full album has a contemplative feel. The topics she raises often relate directly to her life.  “Most people choose to record their life by writing a diary. Meanwhile, I really like to record what happens in life through melody and lyrics,” said LÜCY, whose real name is Liao Hsin-ning.  LÜCY added, “This first album, eponymously titled LÜCY, is an audible diary for me.”  It has been felt since the opening track, “2021”. Not only does it present an introspective and dynamic tune, but LÜCY also brings up portraits of her daily life through the sound of conversations with her family, the purring of cats, and birds singing. A gateway that leads listeners into more LÜCY experiences on other tracks. After “2021”, megahits “CACTUS” lined up as the second track.  In addition to great musicality, LÜCY also presents a variety of languages in each of its tracks. Most of the songs are sung in English and Mandarin, or a combination of both. Like the song “Birdie” or “Heaven.zip”. There is also Japanese in “OH HEY” and the ” isahini ” song in her family’s traditional language. To note, apart from Mandarin, Taiwan also knows several local languages such as Hokkien, Hakka, and various indigenous languages.  For LÜCY, suddenly getting the spotlight because of the success of several single songs is not easy. Moreover, she was more often in her room and recorded her music. However, LÜCY is no longer a loner girl who writes her diary through melodies. She has learned to collaborate and interact not only with his musical partners in the accompaniment band but also with producers and listeners. She also hopes that her work can reach more music lovers from all over the world. 

About LÜCY LÜCY is a young Taiwanese soloist who is now 22 years old. Since the second grade of elementary school, music has been a part of her life. She even finished her high school education by majoring in popular music. As her abilities continued to develop, LÜCY ventured to write and record her first song at the age of 19. She then sent the demo of her first song to one of his teachers, a music producer is known by the moniker Deja Fu.  “This is my first journey to crawl into the world of music,” said LÜCY.  This young musician who, outside of music, likes yoga and painting admits that she finds it difficult when her work is in the spotlight. She, who usually works alone, began to know the accompanying band and producer. On the other hand, it makes the music even better. But on the other hand, as a person who tends to be closed and lacks confidence, she admits that she has difficulty adapting.  “Now, after two years on the scene, I’m starting to develop myself out of doubts about my abilities,” she said.  Yes, now LÜCY has indeed developed into one of the Taiwanese musicians that the world should anticipate. Her European tour a few months ago, which was received positively by the Blue Continent audience, proved that she was good at recording and on stage.  *This release was provided by Taiwan Beats, the gateway to Taiwanese music

About ID-TW Pop Bureau Indonesia Taiwan Pop Bureau is an initiative that has the vision to connect the Indonesian and Taiwanese music scene and introduce it to the music public in each region. The goal is to explore the potential that can be collaborated in the future between the Indonesian and Taiwanese music scenes. Either through collaborations between musicians/bands, split EP/LP, and even tours.  Indonesia is a country with many musical acts with a variety of characters and genres. In recent years, before the COVID-19 pandemic, there were also many diverse music festivals in Indonesia. The stretch is even more massive now that the pandemic situation has subsided. In contrast, Taiwan is an island with many music performance spaces in it. More than a dozen Live Houses in the capital city of Taipei and a lively music scene with various bands and music festivals are held almost every month in almost all cities in Taiwan. Over the past ten years, Taiwan has also been considered one of the potential melting pots for the East and Southeast Asian independent music scene.  Some of our efforts include creating weekly playlists on Spotify via the Indonesia-Taiwan Pop Bureau account. In addition to regular playlists, the Indonesia-Taiwan Pop Bureau is also engaged in publications. 

Contact


Contact LÜCY

lucyliaomeow@gmail.com

https://www.instagram.com/lucy99island/ 

Contact ID-TW Pop Bureau : 

idtw.popbureau@gmail.com 

https://www.instagram.com/idtw.popbureau/ 

Contact Taiwan Beats

liyang@panmedia.asia

taiwanbeats@punchline.asia 

Text by Indonesia-Taiwan Pop Bureau

Solois muda Taiwan, LÜCY merilis album penuh pertamanya yang diberi tajuk namanya sendiri pada Juni 2022 lalu. Mengkombinasikan musik folk yang segar dengan nuansa dream pop yang mengawang, LÜCY hendak memperluas jangkauan pendengarnya setelah sukses menarik perhatian di kancah musik lokal Taiwan. Berisi 11 trek yang dikemas dalam format vinyl, debut ini menghimpun sejumlah lagu yang sebelumnya dilepas sebagai single.

 

Selain lagu populer “CACTUS” yang dirilis pada 2021 dan melejitkan namanya, ada juga lagu “Heaven.zip”. Selain itu terdapat lagu “EYE(S)”, “Birdie” dan “OH HEY” yang dirilis sepanjang Februari hingga Mei 2022. Di lagu “OH HEY”, LÜCY berkolaborasi dengan trio rock Jepang, hitsujibungaku. Dalam format digital di Spotify Indonesia, album ini hanya berisi 10 trek minus “OH HEY”. Lagu tersebut bisa didengar terpisah sebagai single di luar album. Sementara “Birdie” ditampilkan dalam judul Mandarin-nya, 電線桿上的鳥 (pinyin: Diànxiàn gǎn shàng de niǎo). LÜCY memulai aktivitas bermusiknya lewat sejumlah lagu yang ia rekam sendiri di kamar tidurnya. Dikutip dari sesi Unmute Vol. 1 di Taiwan Beats, beberapa inspirasi yang ia sebut seperti Beabadoobee dan Girl in Red.

 

Siapa sangka jika karya yang ia lepas pertama kali lewat situs musik lokal Street Voice melambungkan namanya begitu cepat. Dalam waktu singkat, seiring perilisan album barunya, ia merambah pendengar dunia lewat sejumlah festival besar. Di tahun ini ia berkesempatan tampil di Kaunas 2022 di Lithuania dan Primavera Sound Festival di Spanyol.

Source photo by primaverasound.com

Sebuah Audible Diary Album penuh LÜCY punya nuansa kontemplatif. Topik yang ia angkat seringkali bersinggungan langsung dengan hidupnya. “Kebanyakan orang memilih untuk merekam hidupnya dengan menulis diary. Sementara saya, sangat senang merekam apa yang terjadi dalam hidup daya lewat melodi dan lirik,” kata LÜCY yang punya nama asli Liao Hsin-ning. LÜCY menambahkan, “Album pertama ini, yang secara eponim diberi judul LÜCY, adalah sebuah audible diary buat saya.” Hal itu sudah terasa sejak trek pembuka, “2021”. Bukan hanya menyajikan trek yang introspektif dan dinamis, LÜCY juga memunculkan potret kesehariannya lewat suara percakapan dengan keluarga, dengkuran kucing, dan nyanyian burung. Sebuah gerbang yang mengantarkan pendengar untuk memasuki lebih banyak pengalaman LÜCY di trek-trek lainnya. Setelah “2021”, megahits “CACTUS” didapuk menjadi trek kedua.

 

Selain musikalitas yang mumpuni, LÜCY juga menghadirkan keberagaman bahasa dalam tiap treknya. Mayoritas lagunya memang dinyanyikan dalam Bahasa Inggris dan Mandarin, atau kombinasi keduanya. Seperti pada lagu “Birdie” atau “Heaven.zip”. Selain itu ada juga bahasa Jepang dalam “OH HEY” dan lagu “isahini” yang dinyanyikan dalam bahasa adat keluarganya. Untuk diketahui, selain Mandarin, Taiwan juga mengenal sejumlah bahasa lokal seperti Hokkien, Hakka, dan banyak sekali bahasa adat. Bagi LÜCY, tiba-tiba mendapat sorotan karena kesuksesan beberapa lagu tunggalnya bukan hal mudah. Apalagi sebelumnya ia lebih sering berada di kamar dan merekam musiknya sendiri. Namun, LÜCY kini bukan lagi anak perempuan penyendiri yang menulis diary-nya lewat melodi. Ia telah belajar berkolaborasi dan berinterkasi tidak hanya dengan rekan bermusiknya di band pengiring, tetapi juga produser, dan para pendengar. Ia pun berharap karyanya bisa menjangkau lebih banyak lagi penikmat musik dari berbagai penjuru bumi.

Tentang LÜCY LÜCY adalah solois muda Taiwan yang kini berusia 22 tahun. Sejak kelas dua SD, musik telah menjadi bagian hidupnya. Ia bahkan menamatkan pendidikan SMA-nya di jurusan musik populer. Seiring kemampuannya yang terus berkembang, LÜCY memberanikan diri menulis dan merekam lagu pertamanya di usia 19 tahun. Demo lagu pertamanya ini kemudian ia kirim ke salah satu gurunya, seorang produser musik yang dikenal dengan moniker Deja Fu. “Ini adalah perjalanan pertama saya untuk merangkak ke dunia musik,” kata LÜCY. Musisi muda yang di luar musik menggemari yoga dan melukis ini mengaku kesulitan saat karyanya jadi sorotan. Ia yang biasanya berkarya sendiri mulai mengenal band pengiring dan produser. Di sisi lain, itu membuat musiknya lebih bagus. Tetapi di sisi lain, sebagai pribadi yang cenderung tertutup dan kurang percaya diri, ia mengaku kesulitan beradaptasi.

 

“Sekarang setelah dua tahun berada di kancah, saya mulai mengembangkan diri saya keluar dari keragu-raguan atas kemampuan saya,” kata dia. Ya, kini LÜCY memang telah berkembang menjadi salah satu musisi Taiwan yang patut diantisipasi dunia. Tur Eropanya beberapa bulan lalu yang disambut positif oleh audiens Benua Biru membuktikan kalau dia tak hanya piawai dalam rekaman, tetapi juga di panggung. *This release provided by Taiwan Beats, the gateway to Taiwanese music

Tentang ID-TW Pop Bureau Indonesia Taiwan Pop Bureau adalah inisiatif yang memiliki visi menghubungkan kancah musik Indonesia dan Taiwan serta memperkenalkannya ke publik musik di masing-masing wilayah. Tujuannya untuk menggali potensi yang bisa dikerjasamakan ke depan antara kancah musik Indonesia dan Taiwan, baik lewat kolaborasi antar-musisi/band, split EP/LP bahkan tur. Indonesia adalah negara dengan banyak aksi musikal dengan ragam karakter dan genrenya Dalam beberapa tahun terakhir, sebelum pandemi COVID-19, di Indonesia juga muncul banyak festival musik yang majemuk. Kini setelah situasi pandemi mereda, geliatnya bahkan semakin massif. Sementara Taiwan, adalah pulau dengan banyak ruang pertunjukan musik di dalamnya. Lebih dari selusin Live House di ibu kota Taipei, skena musik yang hidup dengan beragam bandnya, serta festival musik yang digelar hampir setiap bulan di hampir seluruh kota di Taiwan. Selama sepuluh tahun terakhir, Taiwan juga dianggap sebagai salah satu melting pot yang potensial untuk kancah musik independen Asia Timur dan Tenggara.  Upaya yang kami lakukan di antaranya dengan membuat daftar putar mingguan di Spotify lewat akun Indonesia-Taiwan Pop Bureau. Selain daftar putar reguler, Indonesia-Taiwan Pop Bureau juga bergerak di bidang publikasi.

KontakContact LÜCY :lucyliaomeow@gmail.cominstagram.com/lucy99island/ Contact ID-TW Pop Bureau :idtw.popbureau@gmail.com instagram.com/idtw.popbureau/ Contact Taiwan Beats : liyang@panmedia.asiataiwanbeats@punchline.asia

Translated by Muhammad Azka Muharam

Young Taiwanese soloist LÜCY released her first self-titled full-length album in June 2022. Combining fresh folk music with an airy dream pop feel, LÜCY is looking to expand its audience after successfully attracting the local Taiwanese music scene.  This album is filled with 11 tracks packaged in vinyl format, and this debut collects several songs previously released as singles. In addition to the famous hit “CACTUS” released in 2021 and skyrocketing her name, there is also the song “Heaven.zip.” In addition, there are the songs “EYE(S)”, “Birdie” and “OH HEY” which were released from February to May 2022. In the song “OH HEY”, LÜCY collaborated with the Japanese rock trio, hitsujibungaku. In digital format on Spotify Indonesia, this album only contains ten tracks minus “OH HEY”. We can hear the song separately as a single off the album. While “Birdie” is featured in its Chinese title, “電線桿上的鳥” (pinyin: Diànxiàn gǎn shàng de niǎo).  LÜCY started her musical activities through several songs she recorded in her bedroom. Quoted from the Unmute Vol. 1 on Taiwan Beats, some of the inspirations he mentions, such as Beabadoobee and Girl in Red. Who would have thought if the work she released for the first time through local music site Street Voice propelled her name so quickly. With the release of her new album in a short time, she penetrated the world’s audience through several major festivals. This year she had the opportunity to perform at the 2022 Kaunas in Lithuania and the Primavera Sound Festival in Spain. 

Source photo by primaverasound.com

An Audible Diary LÜCY’s full album has a contemplative feel. The topics she raises often relate directly to her life.  “Most people choose to record their life by writing a diary. Meanwhile, I really like to record what happens in life through melody and lyrics,” said LÜCY, whose real name is Liao Hsin-ning.  LÜCY added, “This first album, eponymously titled LÜCY, is an audible diary for me.”  It has been felt since the opening track, “2021”. Not only does it present an introspective and dynamic tune, but LÜCY also brings up portraits of her daily life through the sound of conversations with her family, the purring of cats, and birds singing. A gateway that leads listeners into more LÜCY experiences on other tracks. After “2021”, megahits “CACTUS” lined up as the second track.  In addition to great musicality, LÜCY also presents a variety of languages in each of its tracks. Most of the songs are sung in English and Mandarin, or a combination of both. Like the song “Birdie” or “Heaven.zip”. There is also Japanese in “OH HEY” and the ” isahini ” song in her family’s traditional language. To note, apart from Mandarin, Taiwan also knows several local languages such as Hokkien, Hakka, and various indigenous languages.  For LÜCY, suddenly getting the spotlight because of the success of several single songs is not easy. Moreover, she was more often in her room and recorded her music. However, LÜCY is no longer a loner girl who writes her diary through melodies. She has learned to collaborate and interact not only with his musical partners in the accompaniment band but also with producers and listeners. She also hopes that her work can reach more music lovers from all over the world. 

About LÜCY LÜCY is a young Taiwanese soloist who is now 22 years old. Since the second grade of elementary school, music has been a part of her life. She even finished her high school education by majoring in popular music. As her abilities continued to develop, LÜCY ventured to write and record her first song at the age of 19. She then sent the demo of her first song to one of his teachers, a music producer is known by the moniker Deja Fu.  “This is my first journey to crawl into the world of music,” said LÜCY.  This young musician who, outside of music, likes yoga and painting admits that she finds it difficult when her work is in the spotlight. She, who usually works alone, began to know the accompanying band and producer. On the other hand, it makes the music even better. But on the other hand, as a person who tends to be closed and lacks confidence, she admits that she has difficulty adapting.  “Now, after two years on the scene, I’m starting to develop myself out of doubts about my abilities,” she said.  Yes, now LÜCY has indeed developed into one of the Taiwanese musicians that the world should anticipate. Her European tour a few months ago, which was received positively by the Blue Continent audience, proved that she was good at recording and on stage.  *This release was provided by Taiwan Beats, the gateway to Taiwanese music

About ID-TW Pop Bureau Indonesia Taiwan Pop Bureau is an initiative that has the vision to connect the Indonesian and Taiwanese music scene and introduce it to the music public in each region. The goal is to explore the potential that can be collaborated in the future between the Indonesian and Taiwanese music scenes. Either through collaborations between musicians/bands, split EP/LP, and even tours.  Indonesia is a country with many musical acts with a variety of characters and genres. In recent years, before the COVID-19 pandemic, there were also many diverse music festivals in Indonesia. The stretch is even more massive now that the pandemic situation has subsided. In contrast, Taiwan is an island with many music performance spaces in it. More than a dozen Live Houses in the capital city of Taipei and a lively music scene with various bands and music festivals are held almost every month in almost all cities in Taiwan. Over the past ten years, Taiwan has also been considered one of the potential melting pots for the East and Southeast Asian independent music scene.  Some of our efforts include creating weekly playlists on Spotify via the Indonesia-Taiwan Pop Bureau account. In addition to regular playlists, the Indonesia-Taiwan Pop Bureau is also engaged in publications. 

Contact


Contact LÜCY

lucyliaomeow@gmail.com

instagram.com/lucy99island/ 

Contact ID-TW Pop Bureau : 

idtw.popbureau@gmail.com 

instagram.com/idtw.popbureau/ 

Contact Taiwan Beats

liyang@panmedia.asia

taiwanbeats@punchline.asia